MOU Kerjasama Berahir 2021, Perumda diminta kaji ulang ; Ketua DPRD Didik GS - RADAR MERAH PUTIH

Breaking

Wednesday, March 4, 2020

MOU Kerjasama Berahir 2021, Perumda diminta kaji ulang ; Ketua DPRD Didik GS



Malang,  radar merah putih.com - (4/3) bertempat diruang paripurna DPRD Kabupaten Malang, hari rabu siang tampak perwakilan dari dua Kecamatan di Pakis serta Tumpang yang berjumlah sekitar 100 orang warga mengadakan audiensi dengan wakil rakyat.

Mereka adalah himpunan petani pengguna air yang merasa terdampak dari adanya kegiatan proyek perpipaan air bersih, menurut ketua Hippa Tumpang-Pakis Sayful saat berdialog dengan Ketua Dewan yang didampingi beberapa ketua Komisi terkait menjelaskan "bahwa lahan pertanian seluas 674 Ha sangat kekurangan air ".

" Hal itu terjadi, karena air dari sumber pitu yang berada di Desa Duwet Krajan debit air berkurang dan kemungkinan disebabkan adanya proyek air bersih yang mengambil air terlalu banyak sehingga air untuk pertanian tersedot juga".

" Dan kalau dibiarkan seperti ini, dikuatirkan petani akan mengalami gagal panen. Kalau sudah begitu, apa bisa Tumpang-Pakis sebagai penyangga produsen pertanian Kabupaten Malang seperti tahun-tahun sebelumnya dan tentunya demi suksesnya swasembada pangan ". Terangnya

Adapun menanggapi keluhan warga masyarakat Tumpang-Pakis ,Ketua Dewan Didik Gatot Subroto dan komisi memberikan rekomendasi kepada dinas terkait seperti PU SDA dan Perumda tirta kanjuruhan agar segera menindak lanjuti untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut, sehingga petani bisa tercukupi akan kebutuhan air buat pertanian dan Perumda sebagai operator penyedia air bersih juga tetap bisa beroprasi seperti biasanya, bila memang perlu dikaji ulang kerjasama antara Perumda Tirkan dan Perumda Kota Malang ".

Sedangkan dari Perumda tirta kanjuruhan saat ditemui awak media (4/3) H.Syamsul Hadi melalui Haris selaku Direktur teknik menjelaskan " kami adalah operator penyedia air bersih di Kabupaten Malang, dan untuk sumber pitu sendiri itu dilatarbelakangi adanya kesepakatan antara tiga kepala daerah yakni ; Wali Kota Batu, Wali Kota Malang dan Bupati Malang untuk pembangunan infrastruktur yang kemudian dilanjutkan adanya kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Malang dan Kota Malang untuk memanfaatkan sumber pitu yang waktu itu debitnya masih 400 liter per detik".


Setelah itu, "ada lagi namanya Rekomtek dari Balai besar yang turun menjadi 240 liter per detik. Baru prosesnya kita mintakan ijin ke jakarta terkait pemanfaatan air di sumber pitu, dan dari situ ada kesepakatan untuk pembagian air yang mana PDAM Kota Malang mendapat 140 liter per detik dan PDAM Kabupaten Malang mendapat 100 liter per detik, dengan Mou kerjasama yang akan berahir di bulan November 2021 ".

" Dan untuk seluruh infrstruktur yang bangun pemerintah dengan titik pembagian pipa air di Simpar Tumpang. Yang 100 liter per detik tersebut kita bagi lagi untuk 60 liter perdetik buat pelanggan Tirkan warga Tumpang dan 40 liter per detik untuk pelanggan Tirkan warga Pakis ".

" yang menjadi motifasi kami mengusulkan air dari sumber pitu, karena warga Baran kidal kesulitan akan air bersih buat kebutuhan sehari-hari, jadi setelah proses panjang disetujuilah titik tersebut yang akan dimanfaatkan untuk melayani pelanggan di Desa Baran Kidal dan dari 60 liter perdetik bisa menyuplai 6000 pelanggan ".

" Dari audiensi tadi untuk mengatasi kekurangan air buat pertanian, kami dan dinas terkait tentunya secara bersama-sama akan mencarikan jalan keluar terbaik agar petani tidak kekurangan air dan Perumda sebagai operator penyedia air bersih juga tetap bisa melayani pelanggan dengan baik ". Pungkas Haris. ( ihwn)  .