Sangkaan TPPU Terhadap Mantan Bupati Nganjuk Taufiqurahman Oleh: Dr. WP Djatmiko, S.H., M.Hum., M.Sc. Saat Release LKHP Indonesia . - RADAR MERAH PUTIH

Breaking

Tuesday, September 15, 2020

Sangkaan TPPU Terhadap Mantan Bupati Nganjuk Taufiqurahman Oleh: Dr. WP Djatmiko, S.H., M.Hum., M.Sc. Saat Release LKHP Indonesia .





Nganjuk , radar merah putih com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja menyita tanah milik mantan Bupati Nganjuk, Taufiqurahman  se luas 2,2 hektar di Desa Putren Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Sembilan bidang tanah itu disita tim penyidik KPK  terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). 


Menurut Dr.WP Djatmiko ,SH,M.Hum , M,SC dari Lembaga Kajian Hukum Perburuhan Indonesia ( LKHP) di Nganjuk yang beralamatkan di Jl.A Yani Nganjuk mengungkapkan bahwa ,"  Taufiqurahman  disangka melanggar Pasal 3 dan atau Pasal 4 Undang-Undang (UU) Republik Indonesia No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP. Menurut UU tersebut  pencucian uang  dibedakan dalam tiga tindak pidana: (1) Tindak pidana pencucian uang aktif sebagaimana diatur dalam Pasal 3; (2) Tindak pidana pencucian uang pasif sebagaimana termaktub dalam Pasal 4 dan (3) Mereka yang menikmati hasil dari TPPU sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 5.," Kata Wahyu kepada radar merah putih.com .


Lanjut  Wahyu ," Adapun ancaman pidana untuk Pasal 3 adalah  dipidana dengan kurungan penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). Sedangkan untuk Pasal 4 dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Adapun bagi yang melanggar Pasal 5 ancaman pidananya juga berat yakni dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).," Lanjutnya sore ini ,Selasa malam ( 15/09).


Dirinya menjelaskan pula bahwa ," Untuk kepentingan pengembalian keuangan negara ini, pemerintah telah menyiapkan serangkaian instrumen-instrumen hukum yang mempedomani bagaimana caranya dengan seefektif dan seefisien mungkin keuangan negara dapat diupayakan semaksimal mungkin diambil alih kembali oleh negara. Di samping instrumen hukum yang berasal dari produk pemerintah, instrumen hukum  internasional  tentang  pengembalian  keuangan  negara  juga diperlukan guna mengantisipasi pindahnya keuangan  negara ke negara asing (transborder money loundry).," Jelas Wahyu Djatmiko .


" Pada saat ini TPPU diproses oleh  Pengadilan Umum sedangkan untuk kasus tindak pidana korupsi (TPK) di Pengadilan TPK. Tentunya akan lebih efisien bila keduanya ditangani oleh satu pengadilan saja yaitu pengadilan TPK. Dalam tindak pidana TPPU, setiap satu perkara akan merujuk pada dua jenis tindak pidana yakni tindak pidana asal/awal (predicate crime) dan TPPU. TPPU adalah perbuatan (daad) memindahkan, menggunakan atau melakukan perbuatan lainnya atas hasil dari adanya perbuatan pidana (een feit) seperti TPK, perdagangan narkotik dan tindak pidana lainnya dengan disertai niat jahat (mensrea) untuk menyembunyikan atau mengaburkan asal-usul uang yang berasal dari hasil tindak pidana tersebut sehingga seolah-olah sebagai uang yang sah." Ungkap ketua LKHP ini . 


Lebih rinci , Wahyu menjelaskan ," Proses pencucian uang selalu melibatkan aktifitas: (1) penempatan (placement); (2) pelapisan (layering); dan (3) penggabungan (integration). Aktifitas placement merupakan perbuatan menempatkan dana yang dihasilkan dari suatu perbuatan pidana dengan merubah sifat asalnya seperti, merubah dari mata uang rupiah menjadi mata uang asing, atau menggabungkan antara uang tunai yang berasal dari kejahatan dengan uang yang diperoleh dari hasil mata pencaharian yang sah. Perbuatan merubah sifat asal ini juga bisa dilakukan dengan merubah sifat uang hasil kejahatan menjadi bentuk deposito bank, cek atau berupa saham-saham atau juga mengkonversikan ke dalam mata uang asing atau transfer uang tersebut ke dalam valuta asing ," jelasnya secara rinci .


Diakhir perbincanganya  Wahyu Djatmiko  mengatakan  bahwa ," Aktifitas layering merupakan perbuatan mengurangi dampak jejak asal muasal uang haram. Sebagai misal adalah adanya upaya penghilangan jejak asal-usul uang melalui beberapa tahapan transaksi keuangan yang kompleks yang didesain sedemikian rupa dengan niat jahat untuk menyamarkan atau mengelabui dari mana sumber dana tersebut berasal. Adapun aktifitas integration adalah upaya untuk menggabungkan kembali dana yang dicuci tadi ke dalam bentuk yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku (daader). Aktifitas ini sengaja dilakukan untuk memberi ‘legitimate explanation’ biar seolah–olah semua uang tadi adalah hasil dari mata pencaharian yang sah yang jalan dengan aturan hukum yang ada dan bukan merupakan hasil perbuatan pidana," pungkasnya .( Red/siwi )