-->

Author Details

Dian ; mayoritas bertani singkong warga Pandansari lor, sekitar 64 ha dalam kawasan

Wednesday, November 9, 2022, November 09, 2022 WIB Last Updated 2022-11-09T13:52:30Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 



Radarmerahputih.com -Menilik begitu luas nya wilayah kabupaten Malang, tentu menimbulkan rasa ingin tau kita. Tentang apa mata pencaharian saudara kita yang ada di daerah agak pedalaman atau bisa disebut daerah pinggir hutan pun bisa dikatakan wilayah pegunungan.


Sebut saja disini, daerah pinggir hutan wilayah kecamatan Jabung kabupaten Malang yakni Desa Pandansari lor yang mempunyai tiga dusun dan luas wilayah sekitar 264 ha dengan total penduduk 4.500 orang terbagi 1600 kepala keluarga.


Menurut sekdes Pandansari lor, saat awak media bertandang dikantor Desa (8/11/2022), sekdes an.Dian ini yang termasuk kaum millenial menjelaskan sekilas terkait kondisi perekonomian dan wisata Desa setempat.


"Penduduk Desa Pandansari lor mempunyai mata pencaharian sebagai petani dan sebagian kecil, mungkin 5% saja yang kerja diluar kota atau profesi tukang bangunan".


Lebih jauh, Dian "hampir 95% warga penduduk asli Pandansari lor adalah petani singkong, ketela dan sayuran.

Yang mayoritas adalah singkong dan setahu saya, dulu sewaktu saya masih sekolah sudah banyak petani singkong yang mensuplai kebutuhan bahan baku singkong keluar kota seperti Indofood di Semarang dan juga kebutuhan untuk produksi kripik singkong lumba-lumba Turen punyanya pak cip itu juga disuplai warga sini, atas nama pak Darsono". Ujarnya


Sedangkan menurut keterangan dari Darsono" saya memulai usaha dagang singkong sudah lama, sekitar tahun 2000 seingat saya dulu lumba-lumba itu masih ambil sedikit, sekitar 1 ton singkong hingga saat ini sudah mencapai puluhan ton dalam satu bulan ".


"Kalau kita bicara singkong, ya namanya petani pasti keluhan nya masalah pupuk yang sulit didapat karena bermacam-macam kondisi dilapangan, dulu pernah saya ditawari untuk bisa jualan pupuk buat kebutuhan petani Desa Pandansari lor, Tapi hingga sekarang yang nawari dulu tidak ada kabar beritanya".


"Dan Untuk lahan , saya menanam singkong dilahan sendiri juga sewa (tanah milik warga) dan ada juga yang pakai lahan kawasan hutan atau komplangan. Dan setelah saya amati selama ini, ada perbedaan bertani singkong di lahan pemajekan dengan di lahan perhutani, kalau dilahan pemajekan dengan menerapkan pupuk yang sama dengan luas yang sama pula, hasil nya bisa beda ".


"Artinya kalau dilahan perhutani, umpama Luas 1 ha dengan penerapan pupuk yang sama akan bisa dipanen dengan Waktu yang bebas atau misalnya, kalau biasanya kita panen singkong usia 12-15 bulan dilahan pemajekan kualitas bagus untuk produksi kripik dengan jenis singkong ketan, tapi kalau dilahan perhutani misalnya kondisi sudah usia siap panen, tetapi dilapangan harga turun, kita masih bisa nunggu hingga usia dua tahun tidak apa dan hasilnya pun malah lebih bagus dari segi kualitas dan kuantitas".


"Perbedaan nya kalau lahan perhutani satu hektare bisa mendapatkan 40 ton, tapi kalau dilahan pemajekan sama satu hektare nya maksimal bisa mendapatkan 35 ton sudah bagus. itupun dengan teknik pupuk yang sama jika kita menggarap dilahan perhutani. Dan kalau ditanya masalah beaya untuk per patok atau andil bahasa nya kita bayar 75.000 setiap tahun dan ada yang bagian menarik, biasanya bulan Nopember dari lembaga atau LMDH ". pungkasnya 

( Humas / rdks ) 




 

Komentar

Tampilkan

Terkini