Leptospirosis Menjadi Perhatian Serius Dinkes Pacitan Pasca Musim Panen



 PACITAN Radar merah putih.com. Dinas Kesehatan ( Dinkes) Kabupaten Pacitan menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhdap penyakit leptospirosis yang berpotensi meningkat paska musim panen padi. Kondisi lingkungan yang lembab serta meningkatnya aktivitas di area persawahan menjadi faktor resiko utama penyebaran penyakit.

Kepala Dinas  Kabupaten Pacitan Daru Mustikoaji menyampaikan bahwa leptospirosis merupakan penyanyi yang disebabkan oleh bakteri  Leptospira yang umum ditularkan melalui air  atau tanah yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus. Setelah panen padi, polulasi tikus cenderung meningkat dan berpindah ke area pemukiman warga, sehingga resiko penularan juga ikut meningkat.

"Paska panen banyak tikus keluar dari sawah dan mencari tempat baru, termasuk ke rumah warga. Ini yang harus diwaspadai karena dapat menjadi sumber penularan leptospirosis." ujarnya.

Gejala leptospirosis meliputi demam tinggi, nyeri otot, mata merah, hingga muntah. Jika tidak ditangani dengan cepat, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti kerusakan organ hati dan ginjal.

Dinkes menghimbau pada masyarakat, khusus petani, untuk menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boots dan sarung tangan saat beraktivitas di sawah atau lingkungan berpotensi  terkontaminasi. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus menjadi langkah penting dalam pencegahan.

Masyarakat yang mengalami gejala serupa leptospirosis diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, diharapkan penyebaran leptospirosis di Pacitan dapat ditekan, terutama di masa pasca panen padi. (sst).

Posting Komentar

0 Komentar