Suaidi Guru MAN 3 Prambon Nganjuk Hembuskan Nafas Terakhir Tiga Hari Setelah Cek Cok Dengan Salah Satu Siswanya

 


(Humas MAN 3 Prambon Nganjuk, Muhammad Ikhwanus Shofa, saat memberi keterangan) 



Nganjuk, radarmerahputih.com -Suaidi Guru MAN 3 Prambon Nganjuk Hembuskan Nafas Terakhir Tiga Hari Setelah Cek Cok Dengan Salah Satu Siswanya

Kepolisian Resor (Polres) Nganjuk turun tangan mengusut insiden meninggalnya Suaidi, seorang guru Geografi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Prambon, Kabupaten Nganjuk. 

Pendidik tersebut menghembuskan napas terakhir usai kondisi fisiknya mendadak drop pasca-terlibat adu mulut dengan salah satu siswanya di lingkungan sekolah.

Meski pihak keluarga mengikhlaskan kematian almarhum sebagai musibah akibat riwayat penyakit hipertensi dan stroke, aparat kepolisian tetap melakukan penyelidikan secara profesional.

Kronologi Kejadian: Berawal dari Pintu Toilet Digedor. 


Peristiwa ini bermula pada Selasa (1/9/2026) saat jam pembelajaran berlangsung di MAN 3 Prambon.  Almarhum Suaidi saat itu berada di dalam toilet siswa. Tiba-tiba, seorang siswa kelas XI menggedor pintu toilet dari luar beberapa kali karena hendak menggunakan fasilitas tersebut.

Humas MAN 3 Prambon Nganjuk, Muhammad Ikhwanus Shofa, menjelaskan bahwa almarhum merasa terganggu dengan tindakan muridnya.
"Almarhum keluar dan menegur siswa tersebut hingga terjadi adu mulut. Beliau sempat refleks hendak memberikan peringatan fisik (menjewar), tetapi dihalau oleh siswa, sehingga tidak ada kontak fisik langsung maupun perkelahian," kata Ikhwanus saat memberikan keterangan resmi di lobi MAN 3 Prambon, didampingi Kepala Tata Usaha (KTU).

Usai perselisihan tersebut, almarhum mengundurkan diri dan duduk di teras gazebo sekolah untuk menenangkan diri. Ia sempat bercerita kepada rekan sesama guru bahwa niatnya semata-mata hanya ingin memperingatkan sang murid.

Tak lama berselang, Suaidi beranjak menuju ruang kelas di lantai atas untuk mengajar. Namun, saat hendak menaiki anak tangga, kondisi fisiknya mendadak merosot drastis hingga mengalami muntah-muntah.

Para guru langsung memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi Suaidi ke Puskesmas Prambon.
Karena kondisinya kian mengkhawatirkan, almarhum kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Muhammadiyah Kediri untuk mendapatkan perawatan intensif.


Pihak sekolah mengungkapkan bahwa Suaidi memang memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi). Riwayat ini sempat terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan rutin dari Puskesmas setempat pada Agustus lalu, di mana tensi almarhum saat itu sudah menyentuh angka 180.
Hasil pemeriksaan medis saat almarhum dirujuk ke rumah sakit menunjukkan lonjakan tekanan darah yang sangat fatal. Tensi Suaidi membumbung tinggi hingga mencapai 240/130.
Setelah empat hari bertahan dan mendapatkan penanganan medis intensif, Suaidi dinyatakan meninggal dunia di RS Muhammadiyah Kediri pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Penanganan Polisi: Dilimpahkan ke Unit PPA Polres Nganjuk
Atas insiden ini, pihak sekolah langsung melapor ke Kasi Pendidikan Madrasah (Penma) serta Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Nganjuk. Selain memberikan santunan ke rumah duka, sekolah juga mendatangi Polsek Prambon untuk memberikan keterangan secara transparan.


Kasus yang melibatkan institusi pendidikan dan anak di bawah umur ini kini ditangani langsung oleh tingkatan Polres. Kanit Reskrim Polsek Prambon, Ipda Sumarto, membenarkan dialihkannya berkas perkara tersebut.
"Sampun ditangani PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) dan Pidum (Pidana Umum) mas. Arahan Kapolsek, terkait MAN 3 langsung ke Polres," ujar Ipda Sumarto.
Terpisah, Kasi Humas Polres Nganjuk, AKP Fajar Kurniadi, mengonfirmasi bahwa jajarannya telah mendatangi rumah duka di wilayah Taman, Kota Kediri.


"Berdasarkan keterangan dari pihak keluarga, khususnya istri almarhum, mereka telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menyatakan almarhum memiliki riwayat penyakit hipertensi serta stroke. Pihak keluarga menolak dilakukan tindakan visum, baik luar maupun dalam, serta memutuskan tidak membuat laporan polisi," terang AKP Fajar Kurniadi.


Meski keluarga korban menolak proses hukum lanjutan, Unit PPA Satreskrim Polres Nganjuk tetap melanjutkan proses pendalaman untuk memastikan seluruh konstruksi peristiwa berjalan terang benderang.
"Unit PPA telah melakukan pemanggilan dan pemeriksaan keterangan terhadap kepala sekolah, pihak sekolah, serta saksi-saksi yang mengetahui kronologi kejadian di lokasi. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh konstruksi peristiwa terang benderang," pungkas AKP Fajar. (*) 

Posting Komentar

0 Komentar