GENERASI BARU INDONESIA MAJU ( GBIM ) Tolak Pemulangan Rizieq Sebagai Syarat Rekonsiliasi* - RADAR MERAH PUTIH

Breaking

Tuesday, July 16, 2019

GENERASI BARU INDONESIA MAJU ( GBIM ) Tolak Pemulangan Rizieq Sebagai Syarat Rekonsiliasi*

Rekonsiliasi bukanlah bagi-bagi jabatan yang disertai syarat memulangkan seseorang yang pergi sendiri.



Jakarta Radar Merah Putih, Sekjen Generasi Baru Indonesia Maju (GBIM)  Pusat, Moh Kholil Al Faruq S.H,M.PdI mengkritik rekonsiliasi antara kubu Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo yang disertai syarat pemulangan tokoh Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

Pria yang akrab disapa Gus Kholil  ini menegaskan, rekonsiliasi bukanlah bagi-bagi jabatan yang disertai syarat memulangkan seseorang yang pergi sendiri.
“Rekonsiliasi adalah wujud kesadaran kita untuk mengembalikan keteraturan bangsa, bukan tentang sebatas bagi-bagi jabatan, apalagi tentang  memulangkan seseorang yang pergi sendiri dan minta dipulangkan” ujar  Gus Kholil,baru-baru ini.

Menurut Gus Kholil, justru dengan adanya syarat tentang pemulangan Habib Rieziq, rekonsiliasi tidak dapat disebut rekonsiliasi yang murni. Rekonsiliasi dengan syarat semacam itu hanyalah transaksi politik.
Gus Kholil  juga menegaskan, polarisasi politik yang terjadi semenjak Pemilu 2014, Pilkada Jakarta 2017, serta Pilpres 2019 sudah cukup menghawatirkan. Sebab telah banyak terjadi pergolakan dalam masyarakat, sehingga menurutnya ide rekonsiliasi kali ini jangan sampai ditunggangi kepentingan yang tidak subsatantif sehingga menepikan kepentingan rakyat.

Sekjen GBIM menjelaskan, bahwa yang diharapkan masyarakat khususnya dari kalangan pemuda adalah agar ide rekonsiliasi bersyarat tersebut cuma sebatas angin lalu yang memperkeruh suasana.

“Yang saya herankan ya, bagaimana bisa kita menerima rekonsiliasi yang tidak lebih hanya sebatas istilah, yang pada akhirnya membuat kita menarik kemudi dan menarik diri kebelakang dari konteks pembangunan bangsa ke arah yang lebih maju” ujar Gus Kholil

Gus Kholil menegaskan, " demokrasi  sejauh ini seharusnya sudah mampu dijadikan sebagai ruang nalar untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Namun hal itu harus dengan catatan bahwa setiap elit politik harus mampu bertindak dan berfikir sebagaimana Negarawan bertindak dan berfikir ." jelasnya.

“Jika mau di tarik ke belakang, dan jika para elit politik serta setiap elemen masyarakat mampu dewasa, tidak akan kita ribut dengan rekonsiliasai. Cukup kenali konsep Nawacita II itu dulu, maka tidak ada yang merasa terintimidasi karena semuanya nyaman di dalamnya” papar Gus Kholil( red)